The Precious Gift
February 18͵ 2012 is our wedding day.
Selama satu tahun era baru dalam hidupku͵ tak sedikit badai godaan dan cobaan yang menerpa biduk kecil rumah tangga kami. Sebagai pasangan yang baru belajar mengarungi samudera dalam bahtera pernikahan͵ tak sedikit salah faham yang terjadi͵ namun semua dapat kami sele saikan. Sebagaimana komitmen awal aku dan dia bahwa pacaran yang halal itu setelah menikah͵ dalam setahun pernikahan kami tak jarang juga ada pertengkaran kecil͵ cemburu͵ mesra kembali...sebagaimana pasangan yang tengah pacaran.
Satu hal yang kadang membuatku sedih adalah... mengapa kami belum jua dikaruniai buah hati??? Sedangkan teman-teman dan saudaraku kebanyakan langsung hamil setelah menikah. Banyak tanya yang melukai perasaanku....banyak tanya dalam benakku...
Apakah aku tidak bisa hamil?? Tidak subur??
Apakah hubbyku yang kurang subur??
Sampai-sampai setiap bulan aku selalu menyediakan beberapa testpack kehamilan dan kesuburan. Setiap masa subur aku selalu semangat melihat hasil test kesuburan dengan dua garis merah. Dan setiap datang haid pula aku selalu kecewa.
Akhirnya setelah hampir satu tahun pernikahan kami... suami mengajakku ke klinik program kehamilan...tapi baru tanya-tanya. Dan kami mempertimbangkan akan mencoba mengikuti program itu bulan berikutnya setelah semuanya siap.
Saat itu aku sudah pasrah. Dalam hati aku bertekad͵ jikalau ternyata aku yang tidak bisa hamil͵ meski pedih aku akan merelakan kami berpisah supaya suamiku bisa menikah dengan perempuan yang bisa memberinya keturunan. Namun jika ternyata ia yang mandul͵ aku berjanji pada Alloh untuk mendampinginya seumur hidupku...mungkin kami diamanahi untuk mengurus anak-anak yatim yang butuh kasih sayang orang tua.
Dan suamiku selalu berbesar hati dan menghiburku͵ katanya mungkin Alloh memberi kami kesempatan untuk “pacaran“.
Ya͵ jika Alloh berkehendak͵ maka segala apa yang di luar akal manusia sekalipun maka akan terjadi. Toh kami hanya berusaha.
Dalam hati aku bangga memiliki suami seperti dia.
Begitulah....akhirnya aku menikmati saja masa pacaran kami dan tidak ngotot lagi ingin segera hamil. Dan program kehamilan di klinik yang pernah kami survey pun sudah kami lupakan. Hanya menikmati masa pacaran saja.
Tanggal 21 Pebruari 2013 seharusnya aku haid͵ tapi sampai tanggal 24 pun belum ada tanda-tandanya͵ hanya nyeri seperti nyeri haid. Biasanya tak pernah telat walau sehari dari perhitungan siklus biasanya. Aku jadi ingat artikel yang pernah kubaca bahwa salah satu tanda hamil adalah seperti nyeri haid. Dan perubahan suamiku yang mulai tak suka nasi serta mual di pagi hari͵ membuatku menduga mungkin aku tengah hamil͵ karena suami pernah bilang kalau aku hamil biar ia yang ngidam karena khawatir aku tambah susah makan. Tapi aku tak mau kege~eran dulu͵ daripada kecewa. Akhirnya kuajak suami membeli test pack (karena saat itu aku tidak sedia stock lagi͵ saking pasrahnya)͵ dengan wanti-wanti pada suami untuk tidak terlalu berharap.
Dengan menghibur diri dalam hati͵ “Jangan terlalu berharap. Santai aja͵“ akhirnya kulihat juga DUA GARIS MERAH itu͵ bahkan indikator garis HCGnya lebih pekat. Percaya nggak percaya͵ aku perlihatkan pada suami.
Ia pun tersenyum bahagia dan masih tak percaya dengan hasilnya....sampai2 ia menyuruhku mengabadikan potretnya. Masih penasaran esoknya aku pun meminta suami membeli test pack dengan merk berbeda dan lebih mahal. Ternyata hasilnyapun sama͵ DUA GARIS MERAH. Baru kami mulai yakin. Tanggal 27 Pebruari 2013 aku penasaran periksa ke bidan͵ dan bidannya bilang kalau baru 6 minggu belum keraba dan ia memberi vitamin ibu hamil.
Masih tidak puas͵ tanggal 8 Maret aku dan suami (yang sengaja izin kerja) mengantarku untuk USG ke dokter kandungan͵ karena waktu itu aku khawatir karena merasa mulas2 dan sakit pinggang. Walau kata orang tua itu biasa untuk awal kehamilan͵ tapi kami yang belum pengalaman tetap saja khawatir.
Hasil USG terlihat calon embrionya sudah berukuran 1cm lebih dan dokter bilang positif hamil 6 minggu. Barulah sejak itu kami benar-benar yakin akan kedatangan calon buah hati kami.
Sejak saat itu aku berusaha untuk tidak terlalu cape dan anehnya jadi ingin makan terus. Tapi sebaliknya͵ Aby-nya yang diduga “ngidam“ malah gak doyan nasi dan tiap pagi selalu mual-mual͵ juga ingin buah~buhan asam yang jarang. Aku masih ingat betapa ia bahagia dan menikmati buah menteng yang akhirnya kami dapat dari tukang buah pinggir jalan͵ walau sudah agak layu.
Selasa pagi tanggal 19 Maret 2013͵ aku terbangun di pagi hari dengan kepala yang terasa begitu pusing berkunang-kunang͵ sampai berjalan saja rasanya takut jatuh. Di samping pusing 7 keliling itu͵ aku juga merasa mual ingin muntah tapi tidak bisa. Kata orang tua dan teman-teman yang pernah hamil͵ begitulah yang namanya morning sick dan mabok saat hamil muda. Dua hari itu aku tak sanggup berangkat kerja karena khawatir kalau dipaksakan malah merepotkan yang lain.
21 Maret 2013 pagi aku tak begitu merasa pusing dan mual lagi͵ jadi kukuatkan untuk berangkat ke sekolah͵ saat itu murid-muridku sedang menjalani Mid Semester Test. Mengawas 2 mata pelajaran saja kepalaku rasanya pusing dan badan terasa lelah͵ namun jam 10 pagi aku harus menghadiri Pembinaan Operator Sekolah tentang BOS online dan petunjuk teknis pelaporan dapodik semester 2 yang menentukan nasib tunjangan untuk para guru.
Sepanjang pertemuan itu͵ walau pusing aku tetap berusaha fokus dan ceria. “Mungkin karena belum makan siang͵“ pikirku.
Namun setelah sholat zuhur dan makan siang pun kepalaku masih saja pusing dan ingin segera rebahan di tempat tidur. Untungnya saat itu listriknya padam jadi pertemuannya tidak sampai sore seperti jadual semula.
Sekitar pukul 1.30 akhirnya aku bisa pulang dan betapa paniknya saat tiba di rumah aku merasa basah seperti mendapat haid͵ dan ternyata benar di (maaf) celana dalamku terdapat flek kecoklatan.
Aku panik dan segera menelpon dan sms suami serta bilang pada ibuku. Ibu segera mengajakku ke bidan langganan kakak iparku. Walau pusing dan lelah teramat sangat͵ aku nurut saja pergi ke bidan͵ demi calon babyku...semoga tidak apa-apa. Namun bidan malah merujukku untuk USG ke dokter kandungan rekanannya. Akhirnya aku dan ibu menuju ke dokter itu dengan perjalanan yang lama karena macet jalannya. Dalam perjalanan͵ suamiku menghubungiku dan bilang bahwa ia akan segera menyusulku. Dua jam aku menanti giliran periksa di klinik itu dan suami pun sudah tiba.
Dokter itu menyatakan kalau ukuran plasentanya kurang dari yang seharusnya dan janinnya tidak berkembang. Sebelum sempat mendengarkan penjelasan dokter͵ aku minta izin ke belakang karena sejak dua jam sebelumnya aku harus menahan BAK
Dalam hati aku berharap dan menghibur diri semoga janinku bisa diberi obat penguat atau semacamnya. Saat kembali ke ruangan dokter͵ ia sudah selesai memberi suamiku penjelasan dan memberi resep obat untuk kuminum di rumah serta menyuruhku kembali ke bidan setelah obatnya habis͵ untuk. memastikan bersih/tidaknya. Sekilas aku mendengar bahwa obat yang diberikan itu untuk membersihkan sisa jaringan͵ “Maksudnya apa?“ hatiku tak ingin percaya.
Dalam perjalanan pulang͵ air mataku luruh dan terbawa angin dalam boncengan suamiku.
Malam itu aku belum berani meminum obat dari dokter itu͵ dan ibu serta kakak iparku pun berpendapat bahwa jika hanya flek saja mungkin masih ada harapan͵ karena menurut si teteh͵ kakak perempuannya pun pernah mengalami hal yang sama dan diUSG. menunjukkan janinnya tidak berkembang tapi diberi obat penguat hingga sekarang kandungannya sehat kembali dan hampir 9 bulan. Ia menyarankan agar aku kembali ke bidan lagi.
Dengan harapan janinku masih selamat͵ esok harinya aku dibonceng suamiku pergi ke bidan yang kemarin. Awalnya berniat mengambil jalan pintas͵ malah kami ditunjuki arah jalan yang salah. Malangnya͵ kami malah menyusuri jalan berbatu di pinggir perbukitan yang sepi. Rasanya perutku terasa dikacau melewati medan yang tidak bagus itu. Sesampai di tempat bidan͵ ternyata kami masih harus mengantri lama. Di sana aku mulai bisa merasakan cairan segar mulai keluar dari rahimku. Aku sudah pasrah saja dan tidak terlalu kaget saat bidan itu pun menyuruhku mengikhlaskan calon jabang bayiku. Ia menyuruhku meminum saja obat dari dokter itu dan menyarankan aku kembali ke dokter itu setelah obatnya habis.
Hari jum‘at itu sepulang dari bidan͵ darah yang keluar semakin nyata͵ akhirnya aku meminum juga obat itu. “Ya͵ mungkin sudah takdir͵“ pikirku. Seberapa keras pun aku berusaha menjaga janin ini͵ jika Alloh hendak mengambilnya saat itu juga͵ maka aku harus rela permataku kembali pada Pemiliknya.
Siang sampai malam͵ efek obatnya masih berupa mual dan pusing saja. Atau mungkin juga tidak terasa dan terhibur dengan jengukan sobat-sobat suamiku yang sudah kami anggap adik. Tapi selepas tengah malam͵ sungguh aku tidak bisa menahan sakit yang luar biasa͵ perutku terasa panas dingin dan bagai diremas-remas melebihi sakitnya nyeri haid terparah yang pernah kualami. Walau berusaha kutahan agar tidak membangunkan dan tidak membuat suamiku khawatir͵ tapi sungguh aku tak bisa membendung tangis dan rintih kesakitan.
Esok harinya sudah agak lega karena sakitnya tidak separah malam͵ walau tubuhku semakin lelah karena darah yang semakin banyak keluar sejak mulai minum obat itu. Namun lepas tengah malam͵ rasa sakit itu kembali menderaku. Untungnya suamiku sudah tertidur lelap karena mungkin kecapean setelah pergi - pulang dari Tangerang seharian tadi. Menjelang pagi͵ rasa sakit itu sudah berangsur hilang... mungkinkah gumpalan jaringan bakal janinku telah keluar???
Setelah kucek...ternyata memang ada gumpalan darah yang keluar lalu segera kubungkus dengan kapas dan kain putih. Aku takut bakal janinku terhanyut bersama air. Betapa menyesalnya aku jika sampai itu terjadi. Kubilang pada suami kalau gumpalan darahnya sudah keluar dan kukira itulah bakal janinku. Lalu kami pun menguburkannya di depan rumah.
Setelah itu͵ pendarahanku belum juga berhenti dan suami khawatir jikalau aku ngedrop karena banyak kehilangan darah. Siang harinya kukira takkan sakit lagi karena bakal janinnya sudah keluar͵ tapi ternyata malah lebih sakit dari sebelumnya͵ sakit luar biasa di pinggang dan perutku dengan mulas yan tak terhinggaͺ mungkin seperti itulah rasanya melahirkan. Menjelang sore͵ sakitnya mulai mereda namun masih terasa keluar darah. Setelah kuperiksa͵ ternyata sudah keluar gumpalan putih seperti daging sepanjang lebar telapak tanganku yang sudah menyerupai tubuh bakal janin͵ sudah terbentuk kepala dengan mata dan telinga yang samar serta badan yang sudah hampir muncul kaki dan tangan.
“Inikah dede?“ tanyaku dengan berderai air mata. Lalu segera kupanggil ibu dan suamiku yang segera menyiapkan kapas dan kain putih.
Kubasuh tubuh mungil nan rapuh itu di telapak tanganku dengan hati-hati. Kubaringkan di atas kapas dan kain putih yang ibu sodorkan. Setelah dibungkus rapi dengan kain putih layaknya jasad manusia. Suamiku sendiri yang menggali tanah untuk tempat pembaringan tubuh mungil itu.
“Selamat jalan dede͵ maafkan mama bila tidak bisa menjagamu dengan baik͵“ bisik hatiku pedih melihat gundukan tanah mungil itu.
...[to be continuous]
*unfinished notes*

February 18͵ 2012 is our wedding day.
Selama satu tahun era baru dalam hidupku͵ tak sedikit badai godaan dan cobaan yang menerpa biduk kecil rumah tangga kami. Sebagai pasangan yang baru belajar mengarungi samudera dalam bahtera pernikahan͵ tak sedikit salah faham yang terjadi͵ namun semua dapat kami sele saikan. Sebagaimana komitmen awal aku dan dia bahwa pacaran yang halal itu setelah menikah͵ dalam setahun pernikahan kami tak jarang juga ada pertengkaran kecil͵ cemburu͵ mesra kembali...sebagaimana pasangan yang tengah pacaran.
Satu hal yang kadang membuatku sedih adalah... mengapa kami belum jua dikaruniai buah hati??? Sedangkan teman-teman dan saudaraku kebanyakan langsung hamil setelah menikah. Banyak tanya yang melukai perasaanku....banyak tanya dalam benakku...
Apakah aku tidak bisa hamil?? Tidak subur??
Apakah hubbyku yang kurang subur??
Sampai-sampai setiap bulan aku selalu menyediakan beberapa testpack kehamilan dan kesuburan. Setiap masa subur aku selalu semangat melihat hasil test kesuburan dengan dua garis merah. Dan setiap datang haid pula aku selalu kecewa.
Akhirnya setelah hampir satu tahun pernikahan kami... suami mengajakku ke klinik program kehamilan...tapi baru tanya-tanya. Dan kami mempertimbangkan akan mencoba mengikuti program itu bulan berikutnya setelah semuanya siap.
Saat itu aku sudah pasrah. Dalam hati aku bertekad͵ jikalau ternyata aku yang tidak bisa hamil͵ meski pedih aku akan merelakan kami berpisah supaya suamiku bisa menikah dengan perempuan yang bisa memberinya keturunan. Namun jika ternyata ia yang mandul͵ aku berjanji pada Alloh untuk mendampinginya seumur hidupku...mungkin kami diamanahi untuk mengurus anak-anak yatim yang butuh kasih sayang orang tua.
Dan suamiku selalu berbesar hati dan menghiburku͵ katanya mungkin Alloh memberi kami kesempatan untuk “pacaran“.
Ya͵ jika Alloh berkehendak͵ maka segala apa yang di luar akal manusia sekalipun maka akan terjadi. Toh kami hanya berusaha.
Dalam hati aku bangga memiliki suami seperti dia.
Begitulah....akhirnya aku menikmati saja masa pacaran kami dan tidak ngotot lagi ingin segera hamil. Dan program kehamilan di klinik yang pernah kami survey pun sudah kami lupakan. Hanya menikmati masa pacaran saja.
Tanggal 21 Pebruari 2013 seharusnya aku haid͵ tapi sampai tanggal 24 pun belum ada tanda-tandanya͵ hanya nyeri seperti nyeri haid. Biasanya tak pernah telat walau sehari dari perhitungan siklus biasanya. Aku jadi ingat artikel yang pernah kubaca bahwa salah satu tanda hamil adalah seperti nyeri haid. Dan perubahan suamiku yang mulai tak suka nasi serta mual di pagi hari͵ membuatku menduga mungkin aku tengah hamil͵ karena suami pernah bilang kalau aku hamil biar ia yang ngidam karena khawatir aku tambah susah makan. Tapi aku tak mau kege~eran dulu͵ daripada kecewa. Akhirnya kuajak suami membeli test pack (karena saat itu aku tidak sedia stock lagi͵ saking pasrahnya)͵ dengan wanti-wanti pada suami untuk tidak terlalu berharap.
Dengan menghibur diri dalam hati͵ “Jangan terlalu berharap. Santai aja͵“ akhirnya kulihat juga DUA GARIS MERAH itu͵ bahkan indikator garis HCGnya lebih pekat. Percaya nggak percaya͵ aku perlihatkan pada suami.
Ia pun tersenyum bahagia dan masih tak percaya dengan hasilnya....sampai2 ia menyuruhku mengabadikan potretnya. Masih penasaran esoknya aku pun meminta suami membeli test pack dengan merk berbeda dan lebih mahal. Ternyata hasilnyapun sama͵ DUA GARIS MERAH. Baru kami mulai yakin. Tanggal 27 Pebruari 2013 aku penasaran periksa ke bidan͵ dan bidannya bilang kalau baru 6 minggu belum keraba dan ia memberi vitamin ibu hamil.
Masih tidak puas͵ tanggal 8 Maret aku dan suami (yang sengaja izin kerja) mengantarku untuk USG ke dokter kandungan͵ karena waktu itu aku khawatir karena merasa mulas2 dan sakit pinggang. Walau kata orang tua itu biasa untuk awal kehamilan͵ tapi kami yang belum pengalaman tetap saja khawatir.
Hasil USG terlihat calon embrionya sudah berukuran 1cm lebih dan dokter bilang positif hamil 6 minggu. Barulah sejak itu kami benar-benar yakin akan kedatangan calon buah hati kami.
Sejak saat itu aku berusaha untuk tidak terlalu cape dan anehnya jadi ingin makan terus. Tapi sebaliknya͵ Aby-nya yang diduga “ngidam“ malah gak doyan nasi dan tiap pagi selalu mual-mual͵ juga ingin buah~buhan asam yang jarang. Aku masih ingat betapa ia bahagia dan menikmati buah menteng yang akhirnya kami dapat dari tukang buah pinggir jalan͵ walau sudah agak layu.
Selasa pagi tanggal 19 Maret 2013͵ aku terbangun di pagi hari dengan kepala yang terasa begitu pusing berkunang-kunang͵ sampai berjalan saja rasanya takut jatuh. Di samping pusing 7 keliling itu͵ aku juga merasa mual ingin muntah tapi tidak bisa. Kata orang tua dan teman-teman yang pernah hamil͵ begitulah yang namanya morning sick dan mabok saat hamil muda. Dua hari itu aku tak sanggup berangkat kerja karena khawatir kalau dipaksakan malah merepotkan yang lain.
21 Maret 2013 pagi aku tak begitu merasa pusing dan mual lagi͵ jadi kukuatkan untuk berangkat ke sekolah͵ saat itu murid-muridku sedang menjalani Mid Semester Test. Mengawas 2 mata pelajaran saja kepalaku rasanya pusing dan badan terasa lelah͵ namun jam 10 pagi aku harus menghadiri Pembinaan Operator Sekolah tentang BOS online dan petunjuk teknis pelaporan dapodik semester 2 yang menentukan nasib tunjangan untuk para guru.
Sepanjang pertemuan itu͵ walau pusing aku tetap berusaha fokus dan ceria. “Mungkin karena belum makan siang͵“ pikirku.
Namun setelah sholat zuhur dan makan siang pun kepalaku masih saja pusing dan ingin segera rebahan di tempat tidur. Untungnya saat itu listriknya padam jadi pertemuannya tidak sampai sore seperti jadual semula.
Sekitar pukul 1.30 akhirnya aku bisa pulang dan betapa paniknya saat tiba di rumah aku merasa basah seperti mendapat haid͵ dan ternyata benar di (maaf) celana dalamku terdapat flek kecoklatan.
Aku panik dan segera menelpon dan sms suami serta bilang pada ibuku. Ibu segera mengajakku ke bidan langganan kakak iparku. Walau pusing dan lelah teramat sangat͵ aku nurut saja pergi ke bidan͵ demi calon babyku...semoga tidak apa-apa. Namun bidan malah merujukku untuk USG ke dokter kandungan rekanannya. Akhirnya aku dan ibu menuju ke dokter itu dengan perjalanan yang lama karena macet jalannya. Dalam perjalanan͵ suamiku menghubungiku dan bilang bahwa ia akan segera menyusulku. Dua jam aku menanti giliran periksa di klinik itu dan suami pun sudah tiba.
Dokter itu menyatakan kalau ukuran plasentanya kurang dari yang seharusnya dan janinnya tidak berkembang. Sebelum sempat mendengarkan penjelasan dokter͵ aku minta izin ke belakang karena sejak dua jam sebelumnya aku harus menahan BAK
Dalam hati aku berharap dan menghibur diri semoga janinku bisa diberi obat penguat atau semacamnya. Saat kembali ke ruangan dokter͵ ia sudah selesai memberi suamiku penjelasan dan memberi resep obat untuk kuminum di rumah serta menyuruhku kembali ke bidan setelah obatnya habis͵ untuk. memastikan bersih/tidaknya. Sekilas aku mendengar bahwa obat yang diberikan itu untuk membersihkan sisa jaringan͵ “Maksudnya apa?“ hatiku tak ingin percaya.
Dalam perjalanan pulang͵ air mataku luruh dan terbawa angin dalam boncengan suamiku.
Malam itu aku belum berani meminum obat dari dokter itu͵ dan ibu serta kakak iparku pun berpendapat bahwa jika hanya flek saja mungkin masih ada harapan͵ karena menurut si teteh͵ kakak perempuannya pun pernah mengalami hal yang sama dan diUSG. menunjukkan janinnya tidak berkembang tapi diberi obat penguat hingga sekarang kandungannya sehat kembali dan hampir 9 bulan. Ia menyarankan agar aku kembali ke bidan lagi.
Dengan harapan janinku masih selamat͵ esok harinya aku dibonceng suamiku pergi ke bidan yang kemarin. Awalnya berniat mengambil jalan pintas͵ malah kami ditunjuki arah jalan yang salah. Malangnya͵ kami malah menyusuri jalan berbatu di pinggir perbukitan yang sepi. Rasanya perutku terasa dikacau melewati medan yang tidak bagus itu. Sesampai di tempat bidan͵ ternyata kami masih harus mengantri lama. Di sana aku mulai bisa merasakan cairan segar mulai keluar dari rahimku. Aku sudah pasrah saja dan tidak terlalu kaget saat bidan itu pun menyuruhku mengikhlaskan calon jabang bayiku. Ia menyuruhku meminum saja obat dari dokter itu dan menyarankan aku kembali ke dokter itu setelah obatnya habis.
Hari jum‘at itu sepulang dari bidan͵ darah yang keluar semakin nyata͵ akhirnya aku meminum juga obat itu. “Ya͵ mungkin sudah takdir͵“ pikirku. Seberapa keras pun aku berusaha menjaga janin ini͵ jika Alloh hendak mengambilnya saat itu juga͵ maka aku harus rela permataku kembali pada Pemiliknya.
Siang sampai malam͵ efek obatnya masih berupa mual dan pusing saja. Atau mungkin juga tidak terasa dan terhibur dengan jengukan sobat-sobat suamiku yang sudah kami anggap adik. Tapi selepas tengah malam͵ sungguh aku tidak bisa menahan sakit yang luar biasa͵ perutku terasa panas dingin dan bagai diremas-remas melebihi sakitnya nyeri haid terparah yang pernah kualami. Walau berusaha kutahan agar tidak membangunkan dan tidak membuat suamiku khawatir͵ tapi sungguh aku tak bisa membendung tangis dan rintih kesakitan.
Esok harinya sudah agak lega karena sakitnya tidak separah malam͵ walau tubuhku semakin lelah karena darah yang semakin banyak keluar sejak mulai minum obat itu. Namun lepas tengah malam͵ rasa sakit itu kembali menderaku. Untungnya suamiku sudah tertidur lelap karena mungkin kecapean setelah pergi - pulang dari Tangerang seharian tadi. Menjelang pagi͵ rasa sakit itu sudah berangsur hilang... mungkinkah gumpalan jaringan bakal janinku telah keluar???
Setelah kucek...ternyata memang ada gumpalan darah yang keluar lalu segera kubungkus dengan kapas dan kain putih. Aku takut bakal janinku terhanyut bersama air. Betapa menyesalnya aku jika sampai itu terjadi. Kubilang pada suami kalau gumpalan darahnya sudah keluar dan kukira itulah bakal janinku. Lalu kami pun menguburkannya di depan rumah.
Setelah itu͵ pendarahanku belum juga berhenti dan suami khawatir jikalau aku ngedrop karena banyak kehilangan darah. Siang harinya kukira takkan sakit lagi karena bakal janinnya sudah keluar͵ tapi ternyata malah lebih sakit dari sebelumnya͵ sakit luar biasa di pinggang dan perutku dengan mulas yan tak terhinggaͺ mungkin seperti itulah rasanya melahirkan. Menjelang sore͵ sakitnya mulai mereda namun masih terasa keluar darah. Setelah kuperiksa͵ ternyata sudah keluar gumpalan putih seperti daging sepanjang lebar telapak tanganku yang sudah menyerupai tubuh bakal janin͵ sudah terbentuk kepala dengan mata dan telinga yang samar serta badan yang sudah hampir muncul kaki dan tangan.
“Inikah dede?“ tanyaku dengan berderai air mata. Lalu segera kupanggil ibu dan suamiku yang segera menyiapkan kapas dan kain putih.
Kubasuh tubuh mungil nan rapuh itu di telapak tanganku dengan hati-hati. Kubaringkan di atas kapas dan kain putih yang ibu sodorkan. Setelah dibungkus rapi dengan kain putih layaknya jasad manusia. Suamiku sendiri yang menggali tanah untuk tempat pembaringan tubuh mungil itu.
“Selamat jalan dede͵ maafkan mama bila tidak bisa menjagamu dengan baik͵“ bisik hatiku pedih melihat gundukan tanah mungil itu.
...[to be continuous]
*unfinished notes*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar